MLM
sebenarnya adalah salah satu bentuk alternatif sistem pemasaran barang
dari produsen untuk sampai ke konsumen, yang lebih sederhana dan
menguntungkan banyak orang. Namun pada kenyataannya saat ini MLM justru
menjadi sesuatu yang membuat “alergi” banyak orang. Salah satu alasan
mengapa sebagian besar masyarakat skeptis dengan bisnis MLM adalah
karena sering terjebak dalam bisnis MLM yang melenceng yaitu money game (tapi tidak bisa membedakan money game dengan MLM sejati). Money game
adalah suatu kegiatan yang meniru/menggunakan sistem MLM dengan
menaikkan harga produk dari harga yang seharusnya, atau menurunkan nilai
produk dibandingkan jumlah uang yang dibayarkan, sehingga setiap member
yang bergabung mengalami kerugian.
Sebagai
kaum muda yang masih labil, biasanya mahasiswa menjadi sasaran utama
MLM yang melenceng ini. Mahasiswa masih memiliki semangat dan rasa ingin
tahu yang besar untuk bereksperimen mencari penghasilan sendiri dengan
cara yang mudah, instant dan hasilnya cukup besar. Apalagi
kalau mahasiswa itu memiliki kondisi ekonomi yang relatif kurang mampu,
maka untuk mendapatakan penghasilan di luar kiriman bulanannya, MLM
menjadi salah satu alternative . Mahasiswa juga dalam kesehariannya
selalu bergaul dan bersosialisasi dengan banyak orang selama proses
belajar-mengajar di kampus. Dengan begitu, peluang untuk mendapatkan
anggota baru akan semakin besar.
Tapi,
bagi para mahasiswa yang tertarik untuk menjadikan MLM sebagai peluang
bisnis, ada baiknya agar kita lebih kritis dan mengenal apa itu bisnis
MLM yang benar/sejati, sehingga tidak mudah terjebak oleh Money game
yang berkedok sebagai MLM. Beberapa fakta mengenai MLM berikut ini mungkin bisa memberikan sedikit pencerahan. Selamat menyimak.
Sejarah Multi Level Marketing
Seperti dilansir dalam http://indonesiaindonesia.com,
Multi Level Marketing (MLM) ditemukan oleh dua orang profesor pemasaran
dari Universitas Chicago pada tahun 1940-an. Produk pertama yang dijual
adalah vitamin dan makanan tambahan Nutrilite.
Saat
itu, Nutrilite Products Inc. merupakan salah satu Perusahaan di Amerika
yang dikenal telah menggunakan metode penjualan secara bertingkat.
Dengan modal awal yang relatif tidak besar, seorang tenaga penjual biasa
mendapatkan penghasilan melalui dua cara. Pertama, keuntungan diperoleh
dari setiap program makanan tambahan yang berhasil dijual ke konsumen.
Kedua, dalam bentuk potongan harga dari jumlah produk yang berhasil
dijual oleh distributor yang direkrut dan dilatih oleh seorang tenaga
penjual dari perusahaan.
Rancangan
penjualan perusahaan itu menarik perhatian Rich DeVos dan Jay Van
Andel. Dua pemuda dari Michigan ini kemudian memutuskan bergabung
sebagai tenaga penjual. Hasilnya, dalam kurun waktu sembilan tahun
mereka tidak hanya menikmati keuntungan dari menjual produk Nutrilite,
tapi yang paling melekat dalam benak mereka adalah kehebatan konsep
penjualannya. Suatu konsep yang merupakan dasar dari terbentuknya Amway
Corporation di kemudian hari.
Pada
pertengahan tahun 1950, organisasi dalam perusahaan Nutrilite mengalami
guncangan. Momentum ini merupakan awal berdirinya Amway pada tahun
1959. Amway didirikan oleh Rich DeVos dan Jay Van Andel, berdasarkan
suatu keyakinan, bahwa kesuksesan memasarkan suatu produk adalah
menjualnya secara langsung kepada pelanggan. Berdasarkan pengalaman
berharga yang diperoleh dari Nutrilite, mereka memulai usaha yang
sederhana dengan menempati sebuah gudang di kota Ada, Michigan, dengan
produk awal LOC (Liquid Organic Cleaner), suatu cairan pembersih
biodegradable yang aman untuk lingkungan. Usaha ini kemudian berkembang
menjadi Amway Corporation, sebuah perusahaan yang berskala Internasional
di 80 negara dan teritori.
MLM
sendiri mulai tumbuh di luar Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Dan
dalam waktu singkat, ia berkembang pesat sebagai bagian yang terpenting
dari industri penjualan langsung. Selama puluhan tahun MLM terbukti
merupakan cara yang sangat sukses memberikan penghasilan yang layak
kepada pelanggan secara langsung. Kesukesan ini terlihat nyata ketika
pada tahun 1972 Amway membeli Nutrilite Inc.yang memproduksi vitamin dan
makanan tambahan bermutu. Seperti halnya semua bentuk penjualan
langsung, metode ini membawa manfaat yang luar biasa bagi pasar dengan
memberikan kesempatan kepada ribuan orang yang mungkin terabaikan atau
tidak terserap di pasar tenaga kerja. MLM merupakan cara yang cukup
sederhana dan tidak mahal bagi siapa saja yang ingin belajar tentang
dasar bisnis dan Manajemen penjualan.
Mengapa perusahaan memilih MLM untuk mendistribusikan produknya?
Ada beberapa alasan :
1. Biaya overhead yang rendah
Tidak
seperti perusahaan retail, perusahaan MLM tidak perlu mengalokasikan
dana yang besar dalam advertising untuk menarik customer. Sebagai
penggantinya, dana dialihkan untuk memberikan komisi bagi distributor
untuk memasarkan produk ke customer. Selain itu, perusahaan hanya perlu
memberikan komisi bagi distributor berdasarkan hasil, yaitu dari
persentasi dari produk yang terjual.
2. Biaya overhead distribusi yang rendah
Typical
distribusi melalui retail menggunakan serangkaian regional, negara,
kota, dan retailer lokal untuk mendistribusikan barang-barang.
Masing-masing perlu mendapatkan keuntungan dan melakukan mark up harga
dari barang.
Jalur distribusi non MLM
manufacturer –> transporter –> wholesaler –> retailer –> advertisers –> customers
Jalur distribusi MLM
manufacturer –> representative –> customer
3. Tingkat pertumbuhan yang tinggi
Perusahaan MLM yang diatur dengan baik bisa berkembang dengan tingkat pertumbuhan 20%, 50%, bahkan 100% tiap bulan
4. Tim sales dan marketing yang termotivasi.
Ada
banyak sekali produk yang membanjiri pasaran. Dibutuhkan dana marketing
yang besar untuk bisa memperoleh tempat di customer. Selain itu banyak
produk yang membutuhkan penjelasan yang rinci dibandingkan dengan yang
dapat dilakukan di iklan TV selama 30 detik.
Bagi
perorangan, MLM bisa memberikan kesempatan untuk mempunyai sumber
penghasilan tambahan yang jika disertai dengan kerja keras, bisa menjadi
sumber penghasilan yang cukup significant. (tiray) contonya bisnis MLM PT.MELIA SEHAT SEJAHTERA



0 komentar :
Posting Komentar